January 26, 2022

Manggarai Post

Gerbang Informasi Manggarai

Yosef Kasman: Sumber Air di Kampung Luwuk Tidak Pernah Berkurang atau Lebih

“Sejak kecil kami menikmati air dari sumber itu, tidak pernah berkurang ataupun lebih, kecuali pada musim hujan air berlimpah dan pada musim kering air berkurang, apalagi daerah pesisir ini curah hujan sangat kurang jika dibandingkan dengan daerah pegunungan seperti di kota Ruteng ibu kota Kabupaten Manggarai dengan bentangan hutan gunung yang sangat lebat, dan kami mempunyai sebuah sumur tua yang abadi sebagai sumber air minum di kampung Luwuk”, tutupnya.

ManggaraiPost, Borong – Kehadiran investasi pabrik semen di Luwuk dan penambangan batu gamping di Lengko Lolok, Desa Satar Punda Kecamatan Lambaleda, Kabupaten Manggarai Timur NTT, akhir-akhir ini menjadi topik yang paling hangat diperbincangkan di kalangan masyarakat.

Pada sejumlah media sosial paling populer seperti Facebook, Youtube dan WhatsApp pun ramai diperbincangkan. Dunia Maya menjadi ajang adu argumen dan perang opini antara yang pro dan kontra, baik yang berkepentingan maupun mereka yang sekedar ikut meramaikan diskusi tersebut.



Semua pihak berupaya meyakinkan publik dengan memaparkan sejumlah data yang menjadi dasar argumentasinya. Sayangnya, data yang dipaparkan kebanyakan diperoleh dari hasil googling sebagai sumber utama. Sumber data tersebut sangat diragukan validitasnya, namun kerap digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk mendesak pemerintah sebagai pengambil kebijakan baik di tingkat daerah maupun tingkat pusat agar segera merealisasikan atau membatalkan izin investasi berupa pembangunan pabrik semen di Luwuk dan tambang batu gamping di Lengko Lolok.

Kelompok pendukung hadirnya pabrik semen sebagai industri padat modal cenderung untuk menyerahkan persoalan itu kepada para pihak yang berkepentingan yaitu, para pemilik lahan, investor dan pemerintah. Sebaliknya kelompok kontraris justru menampilkan argumen yang mumpuni untuk menggagalkan hadirnya era baru dalam tatanan investasi di daerah Manggarai Timur tersebut.

Hal yang paling menarik perhatian adalah argumen dikemukakan para kontraris yang menolak rencana investasi tambang batu gamping dari penambangan golongan C itu. Berbagai solusi alternatif yang ditawarkan sebagai pengganti investasi tambang dalam menopang perekonomian daerah Manggarai Timur, khususnya masyarakat di wilayah Luwuk dan Lengko Lolok adalah sektor pertanian yang dinilai sangat sesuai dengan upaya pelestarian lingkungan dan budaya, bahkan dapat dikelola sampai turun temurun dengan istilah demokrasi ekologi.

Demi mendukung argumen tersebut sejumlah informasi yang berbasis geologi ditampilkan, di mana kawasan tersebut merupakan kawasan karts yang berfungsi sebagai pemasok ketersedian air bagi wilayah sekitarnya.

BACA  Bernadus Nuel: Secara Pribadi, Saya Setuju Kehadiran Pabrik Semen

Hal ini menarik perhatian dan layak ditelusuri untuk mendapatkan gambaran sesungguhnya yang terjadi di lapangan terkait dengan kondisi pertanian terutama tentang sawah yang ada di lokasi itu dan karts yang menghasilkan air sebagai sumber untuk kehidupan bagi semua makluk pada umumnya dan pada lokasi rencana penambangan batu gamping serta pendirian pabrik semen itu.

Siang itu, Jumat 19/6/2020 tim dari media ini menelusuri jalan raya bebatuan di Kampung Luwuk untuk menemui narasumber dan mengumpulkan berbagai informasi yang berkaitan dengan isu yang lagi hangat diperbincangkan di jagat maya.

Vinsen Kasim 57 tahun, warga Luwuk yang ditemui di Kampung Luwuk Desa Satar Punda, menuturkan bahwa dirinya adalah putra asli yang merupakan turunan langsung dari nenek moyangnya yang pertama kali migrasi ke kampung itu dari Ngendeng pedalaman Kecamatan Lambaleda beberapa puluh tahun yang lalu.

BACA  Kodim 1612/ Manggarai Bagikan Masker kepada Warga Matim di Enam Kecamatan

Vinsen Kasim yang didampingi Yosef Kasman seorang tokoh muda Kampung Luwuk menjelaskan bahwa dirinya telah bercocok tanam pada daerah bebatuan kapur di tanah miliknya yang terletak pada daerah sepadan pantai, namun hasilnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Tanah saya paling banyak, dari 63,256 ha. milik saya paling banyak, namun bukan karena saya malas mengerjakannya untuk menghidupi keluarga saya, akan tetapi bercocok tanam pada daerah bebatuan kapur ini serta terletak pada daerah sepadan pantai yang berbatasan langsung dengan laut, tidak menjanjikan. Saya bekerja setahun hanya untuk makan 12 hari, dengan demikian saya membiarkan lahan sawah itu terlantar,” jelas Vinsen, sambil menunjukan salinan Gambar Situasi Tanah Sawah, obyeknya Toro Luwuk, luas 63,256 ha, jumlah petani 17 orang letak Desa Satar Punda, Kecamatan Lambaleda, skala 2,500.

Menurutnya, dia bersama pemilik sawah lainnya telah bersepakat menyerahkan tanahnya untuk dibangun pabrik semen ketimbang ditanami padi dengan hasil yang tidak mencukupi kebutuhan hidup mereka dan keputusannya tersebut telah diambilnya melalui pertimbangan untung ruginya.

“Dari 17 pemilik sawah di lokasi itu, maka kami 12 orang pemilik sawah menyerahkan tanah kami untuk dibangun pabrik dengan pertimbangan bahwa harga yang kami sepakati secara ekonomi lebih baik ketimbang kami paksakan tanah itu ditanami padi yang membuat keadaan kami seperti sekarang ini. Kami tidak bodoh, kami sudah menghitung untung dan rugi tentang keputusan kami, sementara 5 orang enggan menjual sawahnya ke pabrik dan itu hak mereka”, ungkapnya.

BACA  Ketua TP PKK Matim: Jaga Pola Asuh Anak Ciptakan Generasi Unggul

Desa Satar Punda Kecamatan Lambaleda bagian utara dengan kontur tanah berbukit dan berbatasan langsung dengan laut utara, merupakan daerah yang kaya dengan sumber daya mineral. Beberapa tahun sebelumnya wilayah ini merupakan tempat beroperasinya perusahaan tambang Arumbai dan Adythia Bumi Pertambangan yang menggali mangan. Saat itu kehadiran dua perusahaan tambang ini sangat ditentang oleh para pegiat lingkungan, sehingga akhirnya mereka pergi meninggalkan lubang yang menganga di bukit Desa Satar Punda.

Terkait kondisi tersebut, ketika ditanya mengenai debit air di kampung Luwuk pasca tambang beroperasi pada wilayah karts itu, Yosef Kasman seorang tokoh muda Satar Punda menjelaskan bahwa debit air dari sumber air di kampungnya tidak pernah berkurang.

“Sejak kecil kami menikmati air dari sumber itu, tidak pernah berkurang ataupun lebih, kecuali pada musim hujan air berlimpah dan pada musim kering air berkurang, apalagi daerah pesisir ini curah hujan sangat kurang jika dibandingkan dengan daerah pegunungan seperti di kota Ruteng ibu kota Kabupaten Manggarai dengan bentangan hutan gunung yang sangat lebat, dan kami mempunyai sebuah sumur tua yang abadi sebagai sumber air minum di kampung Luwuk”, tutupnya.

Kontributor: Anyo
Editor: Jy