January 25, 2022

Manggarai Post

Gerbang Informasi Manggarai

Yustina Ndung: Deno-Madur Patut Duduki Posisi Bupati dan Wakil Bupati Manggarai

Yustina menegaskan bahwa jika ada pihak yang tidak mengakui penghargaan itu berarti ikut melecehkan lembaga pemerintah. Karena penghargaan itu diberikan oleh pemerintah pusat kepada Pemda Manggarai pada masa kepemimpinan Deno-Madur.

ManggaraiPost, Ruteng – Dr. Yustina Ndung dalam orasi politiknya di rumah adat Gendang Mena, Kelurahan Wali, Kecamatan Langke Rembong, 23 November 2020 lalu menilai Pasangan Calon (Paslon) petahana Dr. Deno Kamelus, SH, MH dan Drs. Victor Madur atau paket Deno-Madur masih pantas menduduki posisi Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Pada acara yang digelar bersama dengan Komunitas Ibu-ibu Pemilih Cerdas (Kipas) untuk memenangkan paket Deno-Madur di Pilkada Manggarai 2020, akademisi asal Manggarai yang mengabdi di Malang itu mengungkapkan bahwa dirinya merasa terpanggil untuk ikut terlibat dalam Pilkada Manggarai. Jauh-jauh datang dari Malang, Yustina Ndung dengan tegas menyatakan sikap politiknya untuk medukung paket Deno-Madur.



“Saya baru datang dalam minggu ini. Hati saya sejak dulu tidak berubah. Hanya satu pilihan, nomor 1 Deno-Madur di tanggal 09 Desember. Selama ini saya hanya menghubungi semuanya lewat telepon, lewat media sosial. Dalam minggu ini saya hadir secara fisik setelah virus ini agak sedikit mereda,” ungkap Yustina seperti yang termuat di chanel YouTube Media Deno-Madur.

Panggilan hati seorang akademisi asal Manggarai itu untuk teribat dalam perhelatan politik Pilkada Manggarai tahun 2020, lantaran banyaknya persepsi negatif dan informasi HOAKS mewarnai dinamika Pilkada Manggarai. Sebagai seorang dosen mata kuliah ilmu politik, hal tersebut menurutnya sangat mencedrai citra demokrasi, khususnya di Kabupaten Manggarai.

BACA  Bupati Manggarai: Pelaksanaan Upacara Adat agar Dipikirkan Kembali

“Mengapa sebenarnya saya hadir? Terlalu banyak persepsi-persepsi yang salah. Terlalu banyak berita-berita bohong yang diberikan kepada masyarakat. Saya sebagai anak tanah Manggarai yang mengajar tentang politik, mengajar tentang bagaimana orang berdemokrasi merasa sakit hati. Saya sakit hati. Kenapa orang tua saya, kenapa masyarakat Manggarai, kenapa anak muda kami diberikan, dicekoki dengan cara pandang yang salah,” ungkapnya kesal.

Dalam video berdurasi 16 menit 21 detik itu, Yustina Ndung menjelaskan persepsi yang dimaksudkan adalah pertama, terkait sikap yang meragukan 16 penghargaan yang dialamatkan kepada paslon Deno-Madur oleh pemerintah. Yustina menjelaskan bahwa untuk mendapatkan sejumlah penghargaan itu bukanlah perkara mudah, “Ada sekian indikator, ada sekian tolak ukur, ada sekian pertimbangan-timbangan yang diberikan oleh pemerintah untuk bisa mengeluarkan sebuah penghargaan,” jelasnya.

Sejumlah penghargaan itu hanya dikeluarkan oleh pemerintah sebagai pihak yang berwenang.
Karena itu, Yustina menegaskan bahwa jika ada pihak yang tidak mengakui penghargaan itu berarti ikut melecehkan lembaga pemerintah. Karena penghargaan itu diberikan oleh pemerintah pusat kepada Pemda Manggarai pada masa kepemimpinan Deno-Madur. Alumni PMKRI Cabang Ruteng itu menambahkan penghargaan yang diperoleh Pemda Manggarai itu merupakan bukti keberhasilan berkat kinerja baik Deno-Madur selama 5 tahun.

“Jangan lupa itu. Sehingga kepada saudara-saudara saya yang mungkin selama ini menyampaikan berita demikian, jangan lupa, kalian sedang melecehkan pemerintah Indonesia yang memberikan penghargaan itu kepada Deno-Madur,” tegasnya.

BACA  Tak Terbukti Bersalah, 2 Terdakwa ‘Kasus Tanah Keranga’ Bebas

Cara pandang salah kedua menurut Yustina, adalah terkait pernyataan gagal yang diwacanakan oleh mantan Sekretasris Daerah Manggarai, “Yang kedua, ada lagi yang mengatakan kalau pemerintah Deno-Madur gagal. Dan itu dikemukakan oleh seorang mantan Sekretaris Daerah. Saya kaget luar biasa. Saya kaget, sehingga saya tulis di media sosial. Saya kaget karena pernyataan ini disampaikan oleh mantan Sekda. Karena saya tahu teorinya dan saya ajar tentang itu bahwa Sekda adalah pimpinan tertinggi birokrasi. Ada dua jabatan, jabatan politik dan jabatan karir. Sekda adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pemerintah daerah,” tegasnya.

Cara pandang salah ketiga yang dikritik Yustina adalah terkait pernyataan bahwa Deno-Madur tidak berbuat. Menurutnya, peryataan tersebut justru tidak sesuai dengan kondisi kemajuan daerah Manggarai, “Saya, kalau orang mengatakan kapan keliling Manggarai, saya tidak beritahu. Tapi, saya adalah orang yang tukang jalan keliling Manggarai. Kemarin saya ada di Satarmese tanggal 20 dan 21. Saya tempuh begitu cepat. Jalan sudah bagus sampai di pelosok-pelosok, yang dulu 2010, 2015, saya setengah mati menempuh tempat itu. Kemarin dengan begitu cepat dan begitu lancar, mobil kecilpun bisa sampai di kampung-kampung,” ujarnya.

Dalam video di akun YouTube Media Deno-Madur itu, Yustina menjelaskan bahwa frame “gagal” dan “tidak berbuat” yang ditujukan kepada Paslon Deno-Madur terkesan dipolitisir untuk kepentingan Pilkada. Karena itu, Yustina meminta semua pihak agar bersikap jujur, amanah, sportif, berjiwa besar dan memiliki keteladanan rendah hati dalam menyikapi dinamika Pilkada Manggarai, “Siapapun kalau diberikan dua periode dia akan lanjutkan dan habiskan, tuntaskan semua itu,” tambahnya.

BACA  Erik San: Pemda Manggarai Perlu Tegas dan Cepat Tanggap Atasi Soal Aset Daerah

Deno-Madur adalah paslon yang sangat patut menduduki pimpinan daerah Manggarai sebagai Bupati dan Wakil Bupati, “Mengapa demikian? Debat publik. Saya di Malang nonton bareng dengan mahasiswa. Saya punya komunitas ngobrol pintar (Ngopi). Bukan kopi perubahan yang ada di sini, tetapi ngobrol pintar. Dan itu saya sudah bentuk beberapa tahun yang lalu. Kami nonton bagaimana gagasan itu digulirkan oleh paket Deno-Madur. Kami bangga punya Bupati Deno-Madur. Kenapa? Seorang pimpinan daerah bergerak, bertindak berdasarkan regulasi. Berdasarkan aturan. Ada nomenklaturnya,” ujar Yustina.

Akademisi perempuan asal manggarai itu bahkan mengkritik siakap anggota dewan yang akhir-akhir ini getol mengkritik pemerintahan Deno-Madur. Menurutnya, hubungan legislatif bersama Pemda adalah mitra, “Saya omong bukan karena saya kampanye. Tidak. Ini adalah ilmunya. Yang saya cerita adalah ilmunya. Semuanya bertanggung jawab. Sehingga tidak bisa kita menjadi Pilatus hanya untuk kepentingan sesaat untuk kepentingan politik,” ujarnya.

Yustina mengharapkan agar perbedaan pilihan tidak menghambat langkah untuk tetap mengedepankan pendidikan politik kepada masyarakat Manggarai, “Beda pilihan itu biasa. Tapi mari kita memberikan pencerahan dan pendidikan kepada masyarakat yang menanggap lurus. Jangan bengkok,” tutup Yustina.

Laporan: Yohanes Marto