January 25, 2022

Manggarai Post

Gerbang Informasi Manggarai

Sapta Pesona Mendorong Pertumbuhan Industri Pariwisata di Desa Bamo

Desa Bamo dengan destinasi andalannya yaitu pantai Nanga Rawa merupakan salah satu dari lima desa yang dipilih menjadi pilot project pengembangan desa wisata di Manggarai Timur.

ManggaraiPost, Borong – Penerapan Sapta Pesona sebagai konsep sadar wisata dengan dukungan peran serta masyarakat sebagai tuan rumah destinasi, dalam upaya menciptakan lingkungan dan suasana kondusif, mampu mendorong tumbuh berkembangnya industri pariwisata di Desa Bamo, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim).

Demikian dijelaskan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Budayaan (Kadisparbud) Matim melalui Kepala Bidang Sumber Daya dan Pengembangan Ekonomi Kreatif (Kabid SDM Ekokraf), Rofinus Hibur pada kegiatan monitoring implementasi program Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata di Desa Bamo Kecamatan Kota Komba, Selasa (29/12/2020).



Kegiatan monitoring tersebut melibatkan Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Matim, Frans Bukardi, Pokdarwis Desa Bamo, Kepala Desa Bamo Visensius Bela, segenap staf desa, tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda di desa tersebut.

BACA  Menyambut Hari Bhakti Adhyaksa Ke-61, Kejari Manggarai Gelar Vaksinasi Massal

Rofinus dalam sambutannya menjelaskan penerapan Sapta Pesona sebagaimana dijabarkan oleh Kementerian Pariwisata, dapat dilaksanakan melalui 7 (tujuh) unsur diantaranya adalah Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, dan Kenangan.

Desa Bamo dengan destinasi andalannya yaitu pantai Nanga Rawa merupakan salah satu dari lima desa yang dipilih menjadi pilot project pengembangan desa wisata di Manggarai Timur. Menurut Rofinus Hibur, penerapan Sapta Pesona merupakan faktor penting yang diterapkan dalam pengelolaan destinasi wisata desa itu, “Sapta Pesona Pariwasata mesti benar-benar diterapkan di Desa Bamo,” jelas Kabid SDM Ekokraf itu.

“Dinas Parbud Matim memberikan apresiasi Pokdarwis Desa wisata Bamo yang sudah mulai menata spot foto di kawasan destinasi wisata Desa Bamo,” jelasnya

Kabid SDM Ekokraf itu mengatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan destinasi wisata bagi kelompok anak muda yang tergabung dalam Pokarwis Siwuriwu.

BACA  Bernadus Nuel: Secara Pribadi, Saya Setuju Kehadiran Pabrik Semen

“Hasil cukup baik. ke depannya Dinas Pariwisata Matim akan terus melakukan pendampingan agar pengelolaannya makin maksimal dan mendatangkan minat kunjungan bagi pelaku wisata lokal maupun domenstik dan manca negara,” jelas Rofinus Hibur.

Ia juga menambahkan menjelaskan bahwa aspek prioritas 4A dalam pengembangan kawasan destinasi wisata yaitu, “Atraksi, Aksesibilitas, Amenitas dan Awareness atau kesadaran masyarakat dengan menerapkan Sapta Pesona Pariwisata di kawasan destinasi wisata,” ungkapnya.

Sementara itu Kabid Kebudayaan Disparbud Matim, Frans Bukardi berharap masyarakat Desa Bamo tetap mempertahankan dan menggiatkan pentas budaya lokal, “Tarian Vera dan tradisi ‘kebu’ juga mesti digiatkan karena unik dan menarik minat wisatawan,”.

Kabid Kebudayaan Disparbud Matim juga meminta segenap tokoh-tokoh adat, para kepala suku, masyarakat, dan anak muda agar bisa bekerja sama untuk membangun pariwisata di Desa Bamo, “Dengan kerja sama yang baik dan didukung oleh Pemda Matim maka pariwisata desa Bamo akan meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan bagi setiap warga,” ungkapnya.

BACA  Dinkes NTT Distribusikan 230 Vial Vaksin Covid-19 Tahap II untuk Manggarai Timur

Kepala Desa (Kades) Desa Bamo Visensius Bela bersama aparat desa dan masyarakat Desa Bamo menyambut penuh antusias atas ditetapkannya Desa Bamo sebagai salah satu Desa Wisata di Matim.

“Pertama-tama saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemda dalam hal ini Dinas Pariwisata Manggarai Timur atas pilihannya menetapkan Desa Bamo sebagai salah satu Desa Wisata di Manggarai Timur.
Semoga dengan ditetapkan sebagai Desa Wisata ada geliat ekonomi wisata yang meningkat pendapatan dan kesejahteraan masyarakat,” jelas Visensius Bela.

Salah satu Pokdarwis Desa Bamo adalah “Siwuriwu” sebuah nama yang berarti tempat persinggahan banyak orang.

Yohanes Marto.