January 25, 2022

Manggarai Post

Gerbang Informasi Manggarai

Padang Ma’usui, Bukti Keelokan Ciptaan Tuhan di Manggarai Timur

Ma'usui merupakan padang sabana terluas di pulau Flores. Kawasan padang seluas kurang lebih 3000 hektare ini tepatnya di Kelurahan Watu Nggene, Kecamatan Kota Komba.

ManggaraiPost, Borong – Tidak dapat dipungkiri pulau Flores menyimpan potensi pariwisata yang sangat indah. Pecinta traveling yang mengunjungi Flores tidak akan memperoleh catatan perjalanan menarik jika belum menapak jejak di setiap sudut pulau bunga ini.

Flores tidak hanya terkenal dengan biawak raksasa Komodo di kawasan wisata super premium Labuan Bajo, Manggarai Barat.
Sejauh jarak 230 kilometer dari kota Labuan Bajo, terdapat hamparan padang Ma’usui di Manggarai Timur.



Ma’usui merupakan padang sabana terluas di pulau Flores. Kawasan padang seluas kurang lebih 3000 hektare ini tepatnya di Kelurahan Watu Nggene, Kecamatan Kota Komba.

Dalam suatu kesempatan, Sabtu 4 Januari 2020 saya mendapat undangan natal dan tahun baru (NATARU) bersama rombongan Aliansi Jurnalis Online Manggarai Timur. Saat itu, saya sedang berada di kota Labuan Bajo.

Saya lalu memutuskan berangkat jauh hari sebelum jadwal kegiatan pada tanggal 9 Januari, akhir pekan kemarin. Jarak tempuh darah dari Labuan Bajo sampai di Borong 230 kilometer, memakan waktu kurang lebih 4jam perjalanan, dengan kendaraan roda dua. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Ma’usui, Saya istirahat semalam di kota kabupaten Manggarai Timur itu.

Keesokan harinya, bersama rombongan AJO MATIM berangkat menuju Ma’usui pada pukul 14:29 WITA dengan waktu tempuh 2jam 45menit, menggunakan kendaraan roda dua.

BACA  Viktor B. Laiskodat: NTT Masih Kurang 800 Ribu Ton Semen Per Tahun

Selain rombongan itu ada dua orang gadis cantik yang berkesempatan mengikuti agenda NATARU AJO MATIM di Ma’usui. Dua diantaranya Enu Dewi, mahasiswa Jogja yang sedang berlibur di Borong dan Enu Chyka, alumni STIE-STKIP YPUP Makassar yang kesal karena Pemda Matim tidak menyediakan lapangan pekerjaan.

Lanjut, tiba di kawasan Ma’usui pukul 16:49 WITA, rombongan AJO MATIM langsung menyiapkan tenda untuk nginap semalam ditengah hamparan padang di kecamatan Kota Komba itu. Sedangkan dua Traveler cantik yang berkesempatan ikut bersama AJO MATIM saat itu sibuk mengabadikan view sunset di tempat tersebut.

Enu Chyka Hadu dan Eny Dewi Hibur sedang mengabadikan kerbau liar di Padang Ma’usui.

Perjalanan awak tahun 2021 bersama AJO MATIM menuju padang savana Ma’usui tidak membawa Kami pada kesepian dan kelelahan melainkan pada kelokan hakiki citaptaan Tuhan.

Suasana penuh persaudaraan diantara rombongan jurnalis Matim malam hari itu adalah kenangan yang tak terlupakan. Kami mengabiskan waktu untuk bercerita, berbagi pengalaman tentang menulis dan liku-liku perjalanan jurnalis di lapangan.

Pada malam penuh refleksi itu, beberapa orang diantara jurnalis Matim yang memiliki selera humor, pandai mengundang gelak tawa, pecahkan keheningan di tengah padang, sambil menikmati keindahan langit malam.

Pesona alam di padang Ma’usui membuat saya tidak bisa berpaling dari keelokan hakiki sang pencipta. Ma’usui adalah maha karya Tuhan yang sungguh indah. Kekuatan atmosfer alamnya menghadirkan Tuhan dalam imajinasi saya.

BACA  Bupati Agas Kembali Mekarkan Kecamatan Baru, Lamba Leda Dibagi 5 Wilayah

Berkemah di padang Ma’usui, saya sungguh merasakan sensasi alam yang sungguh menakjubkan. Susana pagi di kawasan ini riuh oleh ringkihan dan dak-dik-duk sepatu kuda yang kejar-kejaran, auman kerbau dan suara burung yang sahut-menyahut di tengah hamparan padang sabana ini.

Menyusuri sudut pandang sabana Ma’usui membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bukan karena kawasan Ma’usui yang luas melainkan karena setiap sudutnya yang selalu menghadirkan pesona memukau. Setiap pandangan saya yang menuju suatu arah selalu bertahan di sana, untuk sekian menit.

Di kawasan ini saya menyaksikan suasana pagi sungguh indah. Uapan kristal embun pagi pada rerumputan padang, menjelma kabut tipis yang indah. Sepintas Ma’usui terlihat bagai lukisan indah pada kanvas yang belum tuntas.

Saya membayangkan suasana romantis di padang sabana ini dinikmati bersama orang tercinta. Berlari liar seperti kuda-kuda yang merajai padang atau nongkrong berduaan, sambil menikmati pemandangan yang tidak akan bisa dibawah pulang dari Ma’usui.

Letaknya yang cukup jauh dari permukiman, warga menjadikan kawasan ini cocok untuk lokasi tujuan berlibur. Berkemah ala anak Pramuka, siapapun bisa menghabiskan waktu bersama orang tercinta di kawasan Ma’usui. Sayangnya, saat ini pemerintah belum mencurahkan perhatian sepenuhnya terhadap potensi pariwisata di kawasan ini.

Tempat ini sangat romantis buat pasangan muda yang sedang dilanda cinta, tapi bukan berarti Traveler jomblo tak diijinkan untuk datang ke tempat ini. Ma’usui bahkan bisa memberi inspirasi bagi Traveler jomblo agar segera menemukan orang tercintanya.

BACA  Cegah Kriminalitas, Polres Manggarai Tingkatkan Kehadiran Polisi di Tengah Masyarakat

Berjarak sekitar 2 kilometer dari tempat perkemahan rombongan AJO MATIM, tepatnya di atas bukit kecil di sebelah barat padang Ma’usui, terdapat hutan batu atau ‘carst’ yang menancap kokoh diantara pepohonan hijau membelakangi lereng gunung Komba yang menjulang. Di puncak bukit ini, keseluruhan hamparan padang Ma’usui terlihat menakjubkan.

“Wow., hamparan padang ini sangat indah dan menakjubkan. Ini kesempatan pertama saya mendatangi tempat ini,” ungkap Chyka, traveler yang mengikuti perjalanan natal dan tahun baru bersama rombongan jurnalis Manggarai Timur itu.

Enu Chyka Hadu, pecinta Traveling dan kain songket Manggarai sedang pose di Puncak bukit cinta Padang Ma’usui, Minggu, 10 Januari 2020.

Berdiri di bebatuan di atas bukit, Gadis cantik yang membalut tubuhnya dengan kain tenun ‘songket’ Manggarai itu tidak henti-hentinya berdecak kagum, “Lelah dalam perjalanan akhirnya terbayarkan dengan pemandangan padang Ma’usui yang menakjubkan. Terima kasih Tuhan,” ungkap Chyka sambil mengangkat dua tangannya menunjuk ke langit.

Sebagian besar masyarakat kelurahan Watu Nggene berprofesi sebagai nelayan. Namun entah karena potensi padang sabana yang luas, ada beberapa diantaranya warga yang berprofesi sebagai penggembala ternak kuda, kerbau dan sapi di kawasan Ma’usui. Tiga jenis hewan ternak tersebut merajai hamparan padang hijau Ma’usui ini.

Laporan: Yohanes Marto.