October 23, 2021

Manggarai Post

Gerbang Informasi Manggarai

Janda Miskin di Manggarai Hidupi 4 Orang Anak, Salah Satunya ODGJ

Menurut Getrudis, selama ditangani Panti Renceng Mose, Gery membaik. Tidak lagi tiba-tiba berontak dan mengamuk. Namun naas bagi Getrudis, bantuan pemerintah untuk biaya perawatan Gery berhenti pada 2019. Selanjutnya ia harus membiayainya sendiri.

ManggaraiPost, Ruteng – Sungguh malang nasib mama Getrudis Sinar. Semenjak ditinggal suami yang meninggal dunia pada 2017 silam, Ia harus berjuang sendirian menghidupi 4 (empat) orang buah hatinya. Selain memenuhi kebutuhan sandang dan pangan, janda 52 tahun ini juga membiayai pendidikan dua anaknya yang masih di bangku SMP dan SMA. Menjadi lebih sulit lagi, anak sulungnya merupakan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Janda Getrudis tinggal di Kampung Lawir, Kelurahan Lawir, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, NTT. Dalam sebuah gubuk papan sederhana berukuran 5×6 meter, Ia tinggal bersama keempat orang anaknya. Putra sulungnya berusia 24 tahun menderita Gangguan Jiwa sejak 2014. Putranya yang kedua Agustinus Handrivan (21) hanya bisa disekolahkan sampai bangku SMA, hingga saat ini belum dapatkan pekerjaan. Ia masih berusaha keras mencari pekerjaan untuk membantu ibunya menafkahi keluarga. Sedangkan dua yang tearakhir, Theresia Angelita Jehuman (17) dan Yohanes Jehuman (15) masih duduk di bangku SMA dan SMP. Untungnya janda Getrudis hanya membiayai uang komite bagi anak yang SMP, sedangkan biaya sekolah anaknya yang SMA masih gratis.

BACA  Polres Manggarai Amankan Pelaku Curanmor Asal Bangka Kenda, Wae Rii



Bersama tim Radio Manggarai dan tiga rekan media lainnya, kami mengunjungi Janda Getrudis pada Rabu, 29 September 2021. Kami menjumpainya di kebun wortel peninggalan almarhum suami yang terletak tidak jauh dari rumahnya di Lawir. Saat itu, hari sudah mulai gelap. Janda Getrudis masih sibuk mencabut rumput yang tumbuh di sela-sela tanaman wortel.



Hasil tanam dari satu-satunya kebun yang dimilikinya itu diandalkan untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya. Untuk makan, minum, listrik, air, berobat, perawatan anak ODGJ, pendidikan anak, dan berbagai kebutuhan lainnya.

“Anak, ini satu-satunya kebun peninggalan ayah kami almarhum Bonefasius Jehuman,” ungkapnya sembari menghela nafas panjang.

Di kebun berukuran kurang lebih 12 x 30 meter ini, Janda Getrudis tanam sayur wortel. Setelah panen, ia akan menjualnya ke Pasar Inpres Ruteng.

BACA  Anak-anak Penyintas Badai Bandang dan Tanah Longsor di Lembata Masuki Tahap Pemulihan

“Kalau anak-anak libur atau kalau saya tidak lagi di kebun, untuk menambah pendapatan kami menjual bensin eceran. Tidak seberapa anak, tetapi yah untuk tambah-tambah sedikit,” sambungnya sembari mengajak rekan-rekan media ke rumahnya.

Di rumah, Janda Getrudis mengisahkan kesulitannya mengais rejeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bantuan sosial dari pemerintah untuk warga yang kurang mampu seperti dirinya mestinya layak ia dapatkan untuk meringankan kesulitannya. Namun menurut pengakuannya, selama ini belum mendapatkan bantuan tersebut. Keluarganya hanya mendapatkan BLT Covid 300 ribu per bulan setelah pandemi Covid-19.

Merawat Anak ODGJ

Tujuh tahun lalu (2014), 3 tahun sebelum ayah mereka meninggal, anak sulungnya yang biasa disapa Gery tiba-tiba mengamuk. Ia menghancurkan seluruh perabotan rumah dan menyerang orang seisi rumah. Bahkan ia mengamuk hingga ke halaman Kampung Besar di Lawir. Sejak saat itu, Gery menunjukan gelagat aneh yang tidak seperti biasanya. Mengamuk secara tiba-tiba, kadang murung dengan tatapan kosong dan pergi begitu saja tanpa arah dan tujuan yang jelas.

BACA  Presiden Jokowi Beri Arahan Khusus Penanganan Covid-19 di Tiga Provinsi

Melihat kondisi Gery, Janda Getrudis dan seluruh keluarga kebingungan.

“Kami kaget dan tidak mengerti. Anak Gery tiba-tiba berubah,” cerita Getrudis.

Janda Getrudis mengaku kesulitan untuk mencari tahu penyebab Gery tiba-tiba berprilaku aneh karena tidak ada masalah serius dalam keluarga yang membuatnya tertekan atau depresi. Kecuali kalau ada persoalan lain yang dialami Gery yang tidak diceritakan kepada ibu dan ayahnya. Selain itu, dalam keluarganya belum ada riwayat ODGJ.

Beberapa tahun sejak putra sulungnya itu mengalami gangguan jiwa, ia meminta bantuan kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai. Ia mendatangi langsung bupati Manggarai saat itu, Kamelus Deno.

“Saat itu Bapak Bupati bantu kami berobat ke Makasar, Sulawesi Selatan. Gery diperiksa oleh psikiater. Ia dinyatakan mengalami gangguan jiwa. Semua ongkos, mulai dari transportasi, makan, hingga pemeriksaan dan obat-obatan ditanggung pemerintah,” tutur Getrudis.

Pages ( 1 of 2 ): 1 2Next »